Mencari Keberadaan Dimensi Lain Menggunakan Gelombang Gravitasi

Mencari Keberadaan Dimensi Lain Menggunakan Gelombang Gravitasi

Mencari keberadaan dimensi lain sudah pernah dilaksanakan oleh sejumlah peneliti luar angkasa memanfaatkan bantuan dari gelombang gravitasi sebagai perantaranya. Ilmuwan menggunakannya untuk mengamati cahaya asal bintang neutron sebagai landasan pendeteksi kemungkinan adanya dimensi selain tempat tinggal kita.

Pada 2017 lalu, terdapat tiga orang fisikawan sekaligus mendapat anugerah penghargaan Nobel karena mereka meneliti serba serbi gelombang gravitasi. Penelitian itu hanya dapat mereka lakukan apabila ada dua atau lebih gelombang berwarna hitam yang bertabrakan di alam semesta.

Tepat empat belas hari semenjak perayaan reward Nobel terselenggara, salah seorang rekan kerja mereka melaporkan kejadian penting terkait penelitiannya. Lembaga Pengamat Gelombang Gravitasi atau LIGO menyatakan bahwasanya team mereka menemukan dua bintang neutron bermassa padat saling bertabrakan dengan keras.

Mencari Keberadaan Dimensi Lain Menggunakan Gelombang Gravitasi

Gelombang hitam tidaklah sama dengan lubang hitam, meskipun keduanya bisa terjamah keberadaannya menggunakan bantuan alat laser seukuran super hero Ultraman. Apabila ingin membayangkannya, ukurannya mungkin tidak beda jauh dengan toilet baru milik NASA yang baru saja meluncur beberapa tahun belakangan.

Kembali pada topik pembahasan, sepasang bintang neutron yang saling menabrak lebih dapat tertangkap alat laser pendeteksi melalui optical receiver. Selanjutnya, para fisikawan bernaung di LIGO menjalani kegiatan mengukur atas peristiwa tersebut sebanyak dua kali pengujian untuk hasil lebih akurat.

Mencari Keberadaan Dimensi Lain Menunjukkan Hasil Nihil

Mengapa gelombang gravitasi menjadi teknik pilihan para ilmuwan ketika bertujuan ingin mencari keberadaan dimensi lain daripada segudang cara lainnya? Jawabannya yaitu karena ia dipercaya akan mendapat pengaruh saat dimensi lain mendekat kepada tempat manusia berkembang biak yaitu planet bumi.

Perbandingan uji ukur gelombang cahaya dan gravitasi terlaksana dengan menyebarkannya secara sengaja ke luar angkasa oleh para peneliti di LIGO. Berkat metode tersebut, mereka sukses mendapatkan gambaran jelas mengenai kemungkinan dua dimensi berbeda saling bersentuhan satu sama lain.

Mengukur secara akurat proses bertabrakannya dua buah bintang neutron tentunya bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan pada umumnya. Untungnya hasil kerja keras para peneliti LIGO ini tidak sia-sia, sebab mereka menemukan teori bahwa gelombang gravitasi bisa mengarungi 4 dimensi sekaligus.

belum ada bukti kuat mengenai keberadaan dimensi lain

Kejadian ini dapat kita kategorikan sebagai perpaduan antara ilmu astrologi serta fisika, dan keduanya mampu membeberkan bukti seakurat mungkin. Hasilnya adalah, kita harus gigit jari sementara ini karena tidak terdapat bukti sama sekali mengenai keberadaan dimensi lain.

 Berkat pengumuman jurnal penelitian tersebut, sejumlah teori gravitasi yang beredar telah gugur seketika saat itu juga karena landasannya menjadi lemah dan rapuh. Selama puluhan tahun, para ahli pengamat luar angkasa seringkali mendebatkan topik mengenai ada atau tidaknya dimensi lain berdasarkan hasil akumulasi seluruh observasi.

Pro Kontra Mengenai Dimensi Ruang dan Waktu Lainnya

Dalam mencari keberadaan dimensi lain biasanya para ilmuwan selama ini mengandalkan teori dark matter maupun energi gelap dalam istilah fisika. Seorang profesor sekaligus fisikawan bernama Daniel Holz mengutarakan pendapatnya bahwa ia dapat memastikan bahwa dark matter dan energi gelap benar nyata adanya.

Daniel Holz melanjutkan, meskipun ia dapat membuktikan keberadaan dua benda tersebut namun team mereka kesulitan mengidentifikasinya karena minim informasi. Baik dark matter maupun energi gelap, keduanya termasuk benda berbahaya karena manusia belum dapat menemukan sifat, karakteristik, serta fungsinya untuk kemaslahatan umat manusia.

Sedikit flashback ke sejarah puluhan tahun lalu, Einstein pernah berkata mewakili seminar pembahasan tentang teori relativitas miliknya mengenai gelombang gravitasi. Ia berujar bahwasanya gelombang gravitasi memiliki kemampuan menurun secara terbalik berdasarkan pada satuan jarak luminositas sehingga kita bisa menghitung jarak menuju sumber.

perdebatan mengenai eksistensi dimensi lain belum selesai

Berdasarkan teori Einstein, maka kita dapat berkata dengan lantang bahwa jarak tempuh menuju sumber dapat terhitung secara tepat mengacu pada gelombang gravitasi. Masalahnya, harmonisasi melengkungnya ruang waktu terhadap alam semesta mengalami pergeseran apabila kita memasukkan subjek dimensi lain ke rumus perhitungannya.

Kesimpulan sementara ini yaitu, manusia belum berhasil menguji data penelitian jikalau hanya mengandalkan gelombang gravitasi semata sehingga perlu mendapat dukungan tambahan. Mustahil kita dapat memecahkan misteri ini kalau masih bersikeras dan tidak mau membuka diri akan kemungkinan rumus lain yang lebih akurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *